![]() |
| Rumah Baduy luar |
Siapa sangka ada satu tempat tenang dan masih asri, tak jauh dari hiruk pikuknya Jakarta. Mereka hidup bergantung dengan alam, memanfaatkan hasil alam dan tanpa merusaknya. Yaa Warga Baduy, atau dikenal dengan urang Kanekes. Terletak di kaki pegunungan Kendeng, di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten. Ada beberapa yang menyebut, harus naik gunung untuk melihat suku Baduy. Yah tak sepenuhnya salah sih, meskipun Ciboleger sudah merupakan perkampungan Baduy, namun sangat berbeda jauh dengan 3 kampung adat Baduy dalam, Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Ketiga Kampung itu bisa dijangkau dengan berjalan kaki, banyak tanjakan dan jauh. Kemiringan tanahnya mencapai 45 derajat dengan suhu rata-rata 20 derajat Celcius serta berada pada ketinggian 300-700 MDPL. Sebelum berkunjung ke Baduy dalam sebaiknya latihan fisik untuk yang belum biasa tracking. Memang ada guide lokal (warga Baduy) yang bisa membantu membawakan barang bawaan wisatawan tapi tetap wisatawan harus berjalan kaki.
Bila hendak ke Baduy sebaiknya menggunakan jasa guide/leader profesional. Karena banyak aturan adat yang harus dipatuhi. Bila dilanggar, wisatawan bisa dikenakan hukum adat atau bahkan diblacklist dari kawasan Baduy. Peraturan adat Baduy dalam :
1. Tidak boleh merekam gambar
Suku Baduy masih mengindahkan aturan leluhur adat mereka hingga membuat peraturan kepada wisatawan, tidak boleh merekam gambar ataupun suara di Baduy dalam.
2. Pernikahan, suku Baduy hanya boleh menikah dengan warga suku Baduy. Bila ada Baduy dalam yang menikah dengan Baduy luar maka otomatis dia keluar dari Baduy dalam, namun masih boleh mengunjungi keluarganya di Baduy dalam. Warga Baduy yang menikah dengan orang luar (non Baduy) akan selamanya keluar dari Baduy.
3. Peraturan saat mandi, wisatawan disilakan mandi di sungai, tapi tidak boleh menggunakan sabun, shampoo ataupun pasta gigi, mencuci baju dengan deterjen juga tak boleh karena hal itu bisa mengotori sungai yang selama ini dijaga warga Baduy dalam, peraturan adat ini juga berlaku untuk warga Baduy dalam itu sendiri.
![]() |
| Leuit (lumbung padi) |
4. Pemakaman, warga Baduy yang meninggal akan dikubur di bawah Leuit (lumbung padi) atau di bawah pohon sekitar Leuit tanpa menandai kuburan tersebut. Membiarkan yang meninggal kembali ke alam tanpa adanya ziarah, warga Baduy hanya mendoakan arwah leluhur dari rumah saja.
5. Makanan, mereka makan nasi hasil tanam sendiri, karena kondisi Baduy dalam yang jauh dari pasar/kota maka mereka makan seadanya. Ikan asin adalah lauk paling awet, mereka sering makan nasi dengan ikan asin. Beras dari hasil panen Baduy ini berbeda, lebih besar dan keras, hasil panen beras tidak dijual hanya disimpan di Leuit dan diambil sesuai kebutuhan mereka. Warga Baduy tidak makan sapi, kambing dan kerbau. Mereka makan ayam apabila ada hajatan besar, pernikahan.
6. Wisatawan, hanya wisatawan Indonesia saja yang boleh berkunjung ke Baduy. Baduy sangat tertutup untuk warga negara asing. Baduy
dalam hanya memperbolehkan wisatawan menginap semalam saja di rumah adat, bila ingin menginap lebih dari satu malam, harus pindah tempat dan lapor ke kepala adat (Pu'un).
7. Seba Baduy, Seba artinya seserahan, acara tersebut digelar satu tahun sekali setelah musim panen ladang Huma. Kawasan Baduy dalam akan disterilkan dari wisatawan selama Seba Baduy. Warga Baduy menyerahkan hasil panen mereka ke gubernur Banten, berkumpul di Serang, ibu kota provinsi Banten. Seba Baduy juga sebagai wujud syukur atas panen melimpah serta wujud kepatuhan mereka kepada pemimpin. Ribuan warga Baduy turun, Baduy luar biasanya datang dengan truk sedangkan Baduy dalam jalan kaki.
8. Transportasi, Baduy dalam tidak menggunakan alas kaki dan hanya boleh jalan kaki kemanapun mereka pergi, hingga saat ini hal itu masih diindahkan warga Baduy dalam. Baduy luar lebih bebas, boleh mengenakan alas kaki dan menggunakan transportasi.
9. Pakaian, Baduy dalam mengenakan pakaian berwarna putih dan hitam, laki-laki mengenakan ikat kepala berwarna putih. Berbeda dengan Baduy luar yang sudah modern, laki-laki mengenakan ikat kepala batik dan pakaian mereka juga sudah modern, bahkan ada juga yang bisa mengoperasikan gatget.
![]() |
| Baduy luar mengenakan pakaian modern membawa ransel serta mengenakan alas kaki, 2 lainnya Baduy dalam, tanpa alas kaki dan serba hitam putih. |
10. Pendidikan, warga Baduy tidak diperbolehkan sekolah. Mereka hanya belajar berladang bersama orang tuanya, kalau toh ada yang bisa membaca berarti mereka inisiatif belajar membaca sendiri. Wisatawan tak boleh menetap dan jadi pengajar di Baduy.
11. Pekerjaan, warga Baduy bekerja di ladang ada juga yang menjual hasil kerajinan tangan mereka kepada wisatawan seperti tenun, gelang, perabotan rumah tangga dari bambu, gantungan kunci dan lainnya. Mereka tak boleh menjual tanah ataupun beras namun boleh menjual hasil tanam lain seperti kayu, duku, durian, mengolah air nira menjadi gula merah (Gula Kaung) serta madu hutan. Wanita Baduy menenun sedangkan laki-laki ke ladang, tapi ada juga wanita Baduy yang ikut membantu ke ladang, tapi tak ada laki-laki yang menenun.
![]() |
| Tenun Baduy |
12. Rumah, agama dan bahasa, rumah adat Baduy menghadap ke selatan, semuanya seragam. Mereka bergotong royong membangun rumah, tanpa paku dan dengan bahan yang tersedia di alam. Warga Baduy menganut agama Sunda wiwitan (percaya pada leluhur) dan mereka biasa berbicara dengan bahasa Sunda, ada juga yang bisa bahasa Indonesia.
Nah itu serba-serbi Baduy, bila hendak berkunjung pilih leader yang profesional serta jaga sopan santun. Sebenarnya part 2 ini saya ingin melanjutkan cerita perjalanan keliling Baduy luar-dalam, namun terlebih dulu saya ingin menyampaikan informasi ini. Kelanjutan cerita perjalanan kami, akan segera dilanjutkan di part 3, terima kasih.
Selamat traveling....... !!!




Komentar
Posting Komentar