#2 INDAHNYA RAMADAN DI LAMONGAN


suasana tarawih di masjid Namira, pict-Fit

      Ramadan bagi saya adalah waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan, seperti pendapat Mbak Yehan juga. Ramadan 2017, kawan asal Lampung itu berhasil menuntaskan misi mengelilingi Indonesia timur, merasakan indahnya Ramadan di berbagai kota. Perjalanan saat Ramadan lebih bisa menghemat budget makan, kondisi kendaraan umum seperti bus, kereta, pesawat juga akan lebih sepi, keadaan seperti ini bisa dibilang pro dengan para pejalan. Tetep bisa kulineran kok, waktu berbuka atau nimbrung disuasana ngabuburit, asli asik banget.  Seperti yang saya alami di Lamongan kemarin, tiba di Lamongan pas jam ngabuburit. Ngabuburit saya habiskan dengan ngobrol bareng Erika dan Yuni, tak lama kemudian azan magrib berkumandang, hah cepat sekali memang. Seperti yang sudah saya ceritakan di artikel sebelumnya, saya dan Bagus ke alun-alun untuk berbuka puasa. Bagus sempat bercerita tentang makanan khas daerahnya yakni nasi Boranan.
Biasanya nasi ini dijual di pinggir jalan, sayangnya malam itu setelah coba jalan dan cari, kami tidak menemukan.  Nasi Boranan semacam nasi pecel, ada telur dan diguyur bumbu khas Lamongan. Disajikan di piring anyaman bambu dan dipincuk, hah sepertinya enak, nasib baik belum memihak. Safari Ramadan di Lamongan saya lanjutkan dengan salat tarawih di masjid Polres.
suasana tarawih di masjid Polres Lamongan
Masjidnya nyaman sekali, karpet empuk dan wangi ditambah lagi ruangan ber-AC, eits jangan bablas ketiduran ya saat sujud hehe. Total rakaat di masjid ini 23, bila ingin berhenti di rakaat tarawih ke-8 bisa langsung pulang dan witir di rumah. Islam itu fleksibel sih, tergantung kepercayaan mau ikut madzab siapa. Di masjid Polres ini juga banyak yang bubar di rakaat tarawih ke-8, so nggak ada alasan untuk kita terpecah belah ya.
Masjid Agung alun-alun, minggu siang (12/05/19) saya diajak salat dhuhur di masjid tersebut. Masjid yang penuh sejarah ini juga cukup nyaman. Buktinya meski sudah ditempel tulisan “dilarang tidur di area masjid” tetap saja banyak yang tidur. Di area putri ada yang menarik perhatian saya, pasalnya mukena digantung cukup tinggi, tujuannya agar mukena yang langsungan alias tidak terdiri dari atasan dan bawahan bisa terurai. Ya tentu saja saya tidak bisa menggapai gantungan mukena (nasib wanita setinggi tongkat pramuka). Untung saja ada alat bantu kayu untuk mengambil mukena, baru di masjid Lamongan ini saya menemui pemandangan demikian. Interior unik dari kayu juga menambah keklasikan masjid, jamaah salah dhuhur di sana juga tertip, suasana adem dan nyaman.


Masjid Namira, hmm ini sih juaranya masjid favorit di Lamongan hehe. Selain hits di kalangan anak muda, masjid Namira juga memiliki ruangan masjid yang super nyaman dengan aroma khas. Kalau saya sih menyebutnya aroma terapi aja ya. Aroma yang mendadak membuat hati dan pikiran tentram, sampai sekarang juga belum bisa move on dengan aromanya. Bila saat tarawih, lampu-lampu di masjid ini akan membuat suasana lebih indah. Interior masjid yang beda dari kebanyakan masjid, membuat Namira jadi masjid favorit di Lamongan.
Yang saya agak sayangkan karena keramaiannya, area putri yang harusnya streril dari putra di masjid Namira cukup terbuka. Mungkin karena hal itulah terdapat peringatan agar tidak memakai bedak. Kaca bening di area putri membuat sangat leluasa jamaah putra melihat kegiatan ruang putri di masjid tersebut. Namun tetap, pesona masjid Namira ini mampu menyedot banyak jamaah untuk berkunjung. Ada area taman, kolam ikan dan dikelilingi sawah, saya dan Mbak Fitri sebenarnya enggan pulang dari sana, tapi kami harus pulang ke rumah Mbak Fitri.
Mushala dekat rumah Mbak Fitri, mushala ini mengingatkan saya pada mushala dekat rumah saya di Ngawi. seperti menjadi saksi pertumbuhan saya. Sedari masih kecil hingga besar saya tarawih di situ. Dari masih jaman lari-lari saat yang lain mendirikan salat hingga saya mendirikan salat tapi diganggu anak kecil yang lari-lari. Indah memang Ramadan itu mau di manapun tempatnya. Saya diajak Mbak Fitri untuk salat tarawih di mushala dekat rumahnya, kebetulan kami menganut paham yang sama, menunaikan jumlah salat 23 rakaat. Mushala tak cukup besar, ruangan mushala sudah dipenuhi jamaah putra, jamaah putri melaksanakan salat di luar mushala. Menggelar tikar di depan mushala, hal tersebut tidak mengurangi kekhusyuan para jamaah yang di luar mushala. Meski ini mushala namun terdapat AC di dalamnya, bisa dibilang ini mushala pertama yang saya temukan dengan menggunakan AC.
tarawih di mushala dekat rumah Mbak Fitri

Sepulang dari mushala, kami makan rujak Paciran yang Mbak Fitri beli waktu ngabuburit tadi. Paciran adalah salah satu daerah di Lamongan yang berada di pesisir pantai, kata Mbak Fitri rujak ini camilan wajib saat berada di tepi pantai di daerah Paciran. Rasa bumbu rujak yang khas membuat saya gagal move on sampai sekarang. Aduh saya kebingungan cari rujak Paciran di Ngawi, disarankan balik ke Lamongan lagi sama Mbak Fitri haha. Sebenarnya ini rujak buah namun bumbunya dicampur petis khas daerah Paciran, asli nampol banget, wajib coba kalau berkunjung ke Lamongan. Syukur-syukur bisa beneran makan rujak Paciran di pinggir pantai, wuih nikmatnya berlipat ganda. Sampai saat nulis ini pun rasa rujaknya masih melekat, aduh puasa woe puasa haha. Ya sudah, sekian dulu cerita perjalanan saya dari Lamongan. Semoga tetep bisa istiqomah menyajikan cerita perjalanan selanjutnya.
Bye…… selamat menunaikan ibadah puasa !



Komentar