![]() |
| suasana tarawih di masjid Namira, pict-Fit |
Ramadan bagi saya adalah waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan, seperti pendapat Mbak Yehan juga. Ramadan 2017, kawan asal Lampung itu berhasil menuntaskan misi mengelilingi Indonesia timur, merasakan indahnya Ramadan di berbagai kota. Perjalanan saat Ramadan lebih bisa menghemat budget makan, kondisi kendaraan umum seperti bus, kereta, pesawat juga akan lebih sepi, keadaan seperti ini bisa dibilang pro dengan para pejalan. Tetep bisa kulineran kok, waktu berbuka atau nimbrung disuasana ngabuburit, asli asik banget. Seperti yang saya alami di Lamongan kemarin, tiba di Lamongan pas jam ngabuburit. Ngabuburit saya habiskan dengan ngobrol bareng Erika dan Yuni, tak lama kemudian azan magrib berkumandang, hah cepat sekali memang. Seperti yang sudah saya ceritakan di artikel sebelumnya, saya dan Bagus ke alun-alun untuk berbuka puasa. Bagus sempat bercerita tentang makanan khas daerahnya yakni nasi Boranan.
Biasanya nasi ini dijual di
pinggir jalan, sayangnya malam itu setelah coba jalan dan cari, kami tidak
menemukan. Nasi Boranan semacam nasi
pecel, ada telur dan diguyur bumbu khas Lamongan. Disajikan di piring anyaman
bambu dan dipincuk, hah sepertinya enak, nasib baik belum memihak. Safari Ramadan
di Lamongan saya lanjutkan dengan salat tarawih di masjid Polres.
![]() |
| suasana tarawih di masjid Polres Lamongan |
Masjid Agung alun-alun, minggu siang
(12/05/19) saya diajak salat dhuhur di masjid tersebut. Masjid yang penuh
sejarah ini juga cukup nyaman. Buktinya meski sudah ditempel tulisan “dilarang
tidur di area masjid” tetap saja banyak yang tidur. Di area putri ada yang
menarik perhatian saya, pasalnya mukena digantung cukup tinggi, tujuannya agar
mukena yang langsungan alias tidak terdiri dari atasan dan bawahan bisa terurai.
Ya tentu saja saya tidak bisa menggapai gantungan mukena (nasib wanita setinggi
tongkat pramuka). Untung saja ada alat bantu kayu untuk mengambil mukena, baru
di masjid Lamongan ini saya menemui pemandangan demikian. Interior unik dari
kayu juga menambah keklasikan masjid, jamaah salah dhuhur di sana juga tertip,
suasana adem dan nyaman.
Masjid Namira, hmm ini sih
juaranya masjid favorit di Lamongan hehe. Selain hits di kalangan anak muda,
masjid Namira juga memiliki ruangan masjid yang super nyaman dengan aroma khas. Kalau saya sih menyebutnya aroma terapi aja ya. Aroma yang mendadak membuat
hati dan pikiran tentram, sampai sekarang juga belum bisa move on dengan aromanya.
Bila saat tarawih, lampu-lampu di masjid ini akan membuat suasana lebih indah. Interior
masjid yang beda dari kebanyakan masjid, membuat Namira jadi masjid favorit di
Lamongan.
Yang saya agak sayangkan karena keramaiannya, area putri yang
harusnya streril dari putra di masjid Namira cukup terbuka. Mungkin karena hal itulah
terdapat peringatan agar tidak memakai bedak. Kaca bening di area putri membuat
sangat leluasa jamaah putra melihat kegiatan ruang putri di masjid tersebut. Namun
tetap, pesona masjid Namira ini mampu menyedot banyak jamaah untuk berkunjung. Ada
area taman, kolam ikan dan dikelilingi sawah, saya dan Mbak Fitri sebenarnya
enggan pulang dari sana, tapi kami harus pulang ke rumah Mbak Fitri.
Mushala dekat rumah Mbak Fitri,
mushala ini mengingatkan saya pada mushala dekat rumah saya di Ngawi. seperti
menjadi saksi pertumbuhan saya. Sedari masih kecil hingga besar saya tarawih di
situ. Dari masih jaman lari-lari saat yang lain mendirikan salat hingga saya
mendirikan salat tapi diganggu anak kecil yang lari-lari. Indah memang Ramadan
itu mau di manapun tempatnya. Saya diajak Mbak Fitri untuk salat tarawih di
mushala dekat rumahnya, kebetulan kami menganut paham yang sama, menunaikan
jumlah salat 23 rakaat. Mushala tak cukup besar, ruangan mushala sudah dipenuhi
jamaah putra, jamaah putri melaksanakan salat di luar mushala. Menggelar tikar
di depan mushala, hal tersebut tidak mengurangi kekhusyuan para jamaah yang di
luar mushala. Meski ini mushala namun terdapat AC di dalamnya, bisa dibilang
ini mushala pertama yang saya temukan dengan menggunakan AC.
![]() |
| tarawih di mushala dekat rumah Mbak Fitri |
Sepulang dari mushala, kami makan
rujak Paciran yang Mbak Fitri beli waktu ngabuburit tadi. Paciran adalah salah
satu daerah di Lamongan yang berada di pesisir pantai, kata Mbak Fitri rujak
ini camilan wajib saat berada di tepi pantai di daerah Paciran. Rasa bumbu
rujak yang khas membuat saya gagal move on sampai sekarang. Aduh saya
kebingungan cari rujak Paciran di Ngawi, disarankan balik ke Lamongan lagi sama
Mbak Fitri haha. Sebenarnya ini rujak buah namun bumbunya dicampur petis khas
daerah Paciran, asli nampol banget, wajib coba kalau berkunjung ke Lamongan. Syukur-syukur
bisa beneran makan rujak Paciran di pinggir pantai, wuih nikmatnya berlipat
ganda. Sampai saat nulis ini pun rasa rujaknya masih melekat, aduh puasa woe
puasa haha. Ya sudah, sekian dulu cerita perjalanan saya dari Lamongan. Semoga tetep
bisa istiqomah menyajikan cerita perjalanan selanjutnya.
Bye…… selamat menunaikan ibadah puasa !








Komentar
Posting Komentar