![]() |
| Track Baduy luar (Foto oleh Mbak Yuni) |
#Dirumahsaja kali ini saya ingin menceritakan perjalanan November 2019 kemarin bersama teman perjalanan yang menyenangkan : @liamurniati19 @yuniastuti411 @zaky_fahreza @jps_99 @matullaa @kaldikanekes @adm.fathir_ .
Bisa dibilang ini merupakan perjalanan remidi bagi saya, pasalnya 2017 lalu gagal berkeliling keseluruhan kampung adat Baduy dalam, hanya sempat semalam di Cibeo, Baduy Dalam. Belum berkunjung ke spot foto ikonik Baduy, yakni jembatan akar, banyak yang terlewatkan kala itu. Saya mengulang perjalanan Baduy luar hingga dalam bersama rombongan baru pada 1-3 November 2019 lalu. Baru sempat menuliskannya karena banyak faktor terutama persiapan pernikahan saya.
Kami berjalan berkeliling Baduy luar-dalam selama 3 hari dengan total perjalanan 16,5 jam berjalan kaki. Perjalanan yg sangat luar biasa bagi saya. Kami mengenal budaya Baduy, kearifan lokalnya, karya-karyanya, rumah adatnya, bahasanya dan lainnya. Meeting point di stasiun Rangkasbitung, saya, Mbak Yuni dan Zaky berangkat dari Serang sedangkan Mamat dan Fathir telah tiba di stasiun Tanah Abang, mereka berdua dari Nganjuk, Jawa Timur. Perjalanan ini sebenarnya spesial saya persembahkan untuk Mas Joko yang 2017 lalu gagal ke Baduy karena jadwal reshcedule mendadak, pembuluh darah saya pecah. Perjalanan ini sekaligus remidial untuknya yang berasal dari Jogja, mengajak satu kawan lain, Lia dari Jakarta. Setelah semua berkumpul, kami lantas mencari sarapan sekaligus tempat briefing. Di antara mereka semua hanya Fathir dan Lia yang baru saja kenalan dengan saya, sisanya saya cukup mengenal lama mereka. Terlebih si Zaky yang satu kampung dengan saya, di Ngawi-Jawa Timur.
Rundown dan Budget sudah saya susun lalu sembari mereka sarapan saya menyampaikan briefing, hal ini juga untuk memberikan gambaran tentang suku Baduy yang akan kami jelajahi 3 hari ke depan. Berkomunikasi dengan Yayat (guide waktu 2017 ke Baduy) lewat WhatsApp, dia warga Baduy luar yang melek teknologi. Yayat menyampaikan lewat telpon bahwa kami akan ditemani oleh Kaldi, sahabat Yayat, Kaldi sudah menunggu di Ciboleger. Yayat memesankan kami angkot yang langsung menuju ke Ciboleger, 30rb/orang, lumayan ekonomis. Akses normal, naik angkot sampai terminal Pariuk Aweh 5rb/orang, lalu oper elf sampai Ciboleger 25rb/orang, jatuhnya sama sih harganya. Karena waktu itu hari Jumat, para rombongan laki-laki melaksanakan sholat Jumat terlebih dahulu, sisanya beristirahat dan dhuhur di warung Ciboleger. Kaldi sudah memperkenalkan diri, ia laki-laki Baduy yang masih berusia belasan, tak banyak bicara.
Sebelum memulai tracking kami membeli slayer Baduy luar, 15rb harganya, hanya untuk penyemangat sih niatnya tapi slayer itu juga berguna melindungi diri dari matahari dan lainnya. Kami ke toko untuk membeli sembako, yang nantinya akan dimasak tuan rumah untuk menjamu kami selama 3 hari di Baduy. Masuk area Baduy wajib lapor dan membayar biaya retribusi sebesar 4rb/orang, sangat murah. Ciboleger sudah merupakan area Baduy luar, mereka banyak yang menjual sovenir Baduy, kain, madu, gantungan kunci dan lainnya, kreatif sekali warna Baduy ini. Kami berdoa bersama dan memulai tracking, pos pertama rumah Yayat. Sekitar 1,5 jam kami tiba di rumah Yayat, beristirahat dan makan siang (yang sedikit kesorean).
| Istirahat, sholat dan makan di rumah Yayat (foto Fathir) |
Yayat sepertinya siap menyambut tamu, dia dan istrinya menjamu kami dengan air, jambu dan gula merah bikinan warga Baduy, gula kaung namanya. Teman-teman banyak yang membeli gula serta madu kepada Yayat.
Dulu di depan rumah Yayat ada tanah lapang tapi sekarang sudah ada bangunan. Sungai juga mengering ah sayang sekali, meski begitu saya tetap gosok gigi di sungai, airnya jernih. Kebetulan waktu ashar kami masih di rumah Yayat, ah sekalian ashar pikir saya. Seusai istirahat, makan dan sholat, kami melanjutkan perjalanan.
| Foto bersama keluarga Yayat di depan rumahnya |
![]() |
| Istirahat di Saung |
Sekitar pukul 18.30 WIB kami tiba di Cibeo. Memberi salam pada tuan rumah serta membersihkan diri lantas kami meng-qodho sholat Maghrib dan isya. Zaky, Fathir, Mamad dan Mbak Yuni belum terbiasa tracking, terlebih Mbak Yuni ini ibu beranak 3, hah keren jiwa travelingnya. Malam itu selepas isya para laki-laki langsung tidur. Tuan rumah memasakkan kami makan malam, saya meng-injak2 kaki Mbak Yuni yang pegal sembari bercerita dengan Zaky. Lama sekali tak bertemu Zaky, dia baru mengambil kuliah di Bogor, kami bertukar kabar, Lia dan Mbak Yuni lelap tidur. Sekitar pukul 21.00 WIB makan malam siap, saya membangunkan semuanya. Menu makan malam kami, mie rebus, sambal bejek dan sarden. Kami makan di mangkuk keramik namun minum di gelas bambu, hmm minuman jadi makin nikmat dengan aroma bambu. Oy di Cibeo ini tidak ada toilet, sungai selain menjadi sumber air juga berfungsi sebagai toilet. Saya, Lia dan Mbak Yuni membersihkan diri serta wudlu di sungai ditemani Sarah, anak tuan rumah. Selepas semuanya kami beranjak tidur, agenda esok hari kami berkeliling ke 2 kampung adat Baduy dalam yakni Cikertawana dan Cikeusik serta pindah tempat menginap.
Bersambung......


Komentar
Posting Komentar