Gunung Sindoro berhadapan
langsung dengan gunung Sumbing dan ada beberapa gunung yang berdekatan dengan
kedua gunung tersebut bahkan gunung Lawupun juga terlihat. Jajaran gunung di Jawa
Tengah memang menyimpan pesonanya. Tak heran banyak pendaki yang jauh-jauh dari
luar daerah bahkan luar pulau datang hanya untuk menikmati keindahan alam gunung
di Jawa Tengah. Beberapa gunung di Jawa Tengah yang jadi favorit para pendaki
antara lain gunung Merbabu, gunung Slamet, gunung Sumbing, gunung Merapi dan
gunung Sindoro. Awalnya rombongan kami akan mendaki gunung Sumbing namun
akhirnya beralih ke gunung Sindoro via Kledung. Saya sih ngikut saja,
karena kurang begitu paham bab pergunungan. Hampir semua
outfit dan
perlengkapan hasil minjem wkwkwk.
 |
| sarapan di tenda, jelang subuh sebelum summit |
Jam
menunjukkan pukul 02.00 WIB, semua nampak gelap. Saya pikir ini mimpi, ternyata
beneran berbaring di tenda. Coba pejamkan mata lagi,
harapannya buka mata sudah berada di atas kasur di rumah. Ah percuma, nyatanya
memang berada di dalam tenda, sedikit sempit dan kegerahan. Suhu di dalam tenda
dan di luar tenda sangat jauh berbeda. Pukul 03.16 WIB saya membangunkan
teman-teman yang lain, sembari bersiap
summit attack. Suhu saat itu kurang lebih 15
˚C
sebenarnya tak terlalu dingin bagi saya karena mirip suhu di rumah yang pernah
mencapai 16
˚C
namun karena disertai angin, jadi dingin cukup menyerang. Jeje, Wiwid dan Khinan
sudah siap
summit, kata Mas Jogja ( belum mau diajak kenalan) sarapan
dulu sebelum
summit. Jeje dan yang lain sempat melahap roti tawar yang dicampur
susu coklat, akhirnya mereka bertiga jalan terlebih dulu.
Tertinggal
saya dan rombongan laki-laki. Sembari menunggu mie yang saya masak matang,
menengok di depan tenda. Nampak jelas senter dari para pendaki di gunung
Sumbing yang berada tepat di hadapan gunung Sindoro. Hal itu menunjukkan para pendaki
gunung Sumbing sedang summit bahkan sudah ada yang mendekati puncak pada jam
04.00 WIB. Mas Jogja yang lebih muda sudah diketahui namanya Hanif, dia berada
tepat di samping saya, mengenakan sleeping bag dan menekuk lututnya. Setelah semua matang sayapun sarapan
nasi, mie goreng dan roti tawar yang dicampur susu coklat, barulah siap
summit. Danu dan Jojo tak sabar menunggu yang lain bersiap, mereka berdua pamit
dulu. Sisanya baru berangkat selepas subuh, termasuk saya. Jalan masih
gelap, menanjak dan penuh batu. Baru sedikit jalan, nafas sudah berat, Radit
menyalip, tersisa saya, Hanif dan Mas Jogja yang belum mau kenalan. Katanya
kalau saya bisa sampai puncak, baru dia mau memperkenalkan diri.
Hanya
sebentar kami berjalan menggunakan senter dan
headlamp, hari sudah mulai
terang. Kami masih dikepung hutan petai cina (Lamtoro, bahasa Jawa) yang tak ada buahnya. Petai cina
sejenis sayur, kalau di tempat saya biasanya dibikin campuran pecel. Ah
sayangnya petai cina versi gunung tidak bisa dimasak. Hanif sedikit berlari
agar segera lolos dari hutan petai cina, ingin menyaksikan
sunrise katanya, di tanah lapang. Langkahnya cepat sekali, mungkin karena sudah terbiasa naik gunung atau mungkin langkah saya yang lambat karena tidak pernah naik gunung.
Saya menyaksikan sedikit di balik dedaunan pohon petai cina, hanya sekedar menengok lalu berjalan lambat lagi agar segera lolos area hutan petai cina.
Summit ini tak mudah,
saya ketinggalan jauh dari rombongan, untunglah ada Mas Jogja satunya yang
sabar membersamai langkah saya. Usut punya usut ternyata dia tim SAR. Saya ijin
menangis di pos 4 yang memakan waktu kurang lebih 3 jam dan puncak masih jauh.
 |
| pemandangan hutan Lamtoro/ petai cina |
“Udah
nanti aja nangisnya pas udah sampai puncak, jalan aja dulu tar juga sampai”
katanya enteng sambil nyampurin serbuk Nutrisari pada air minum yang
ditinggalkan pendaki lain lalu dipungutnya. Saya lanjut berjalan seperti siput sambil menahan
air mata yang hampir jatuh. Medan semakin sulit, beberapa pendaki yang sudah
turun dari puncak, terpeleset, jatuh dan langkahnya terjeda. Saya minta berhenti lagi, putar balik badan,
bernafas sambil menyaksikan kemegahan gunung Sumbing. Mas Jogja
 |
| tanaman khas gunung, edelweis di atas area hutan petai cina |
berdiri agak
pinggir, saya di tengah jalan sudah malas geser. Tiba-tiba ada yang menghantam
betis saya, keras sekali, saya kira pendaki lain yang terpeleset rupanya ada
bongkahan batu jatuh. Air mata yang sedari tadi saya tahan-tahan akhirnya
keluar. Kenapa tidak ada pendaki lain yang memberi peringatan ada batu jatuh
seperti di film 5cm? sedikit emosi dan menyalahkan pendaki di kanan dan kiri.
“Udah
gak usah marah-marah, namanya kecelakaan, mungkin mereka semua juga gak lihat”
katanya lagi sambil menyodorkan
snack dan minuman. Coba meredam amarah,
mengingat ini di gunung tak boleh mengumpat, tak boleh
sambat (mengeluh, bahasa Jawa) dan sebisa
mungkin pulang dengan selamat. Kembali berjalan waspada sambil terus
beristighfar, tak terlihat pincang karena medan berhasil menyamarkan. Puncak sudah terlihat, kembali
bertemu dengan rombongan Jeje yang rupanya sedari tadi menunggu kawan-kawannya
yang tertinggal, pun juga Radit yang tiba-tiba muncul di belakang saya. “Kami
sengaja menunggu kalian agar bisa ke puncak bareng dan foto bareng” kata Jeje, membuat semangat saya bangkit kembali. Tinggal beberapa langkah lagi, sangat
kelelahan memang, untunglah ada yang menarik
trekking pole alami saya (tongkat kayu nemu di jalan) hingga puncak.
Tangis kembali lepas kala memeluk Jeje di puncak, rupanya dia sudah lebih dulu menangis.
 |
penampakan Mas Jogja yang asik nyampurin serbuk Nutrisari (eits iklan haha)
ke botol minuman yang dia temukan |
 |
| kondisi di puncak, ramai sekali |
Sampai
di puncak pukul 10.20 WIB, terdapat papan peringatan yang menghimbau agar para
pendaki tidak berada di puncak di atas jam 11.00 WIB, itu artinya hanya 30
menit kami bisa menikmati puncak Sindoro 3.153 Mdpl. Bau belerang akan semakin menyengat di atas jam 11.00 WIB, karena aktivitas vulkanik akan meningkat di atas jam tersebut. Pemandangan di puncak sangat indah meskipun gersang, ada kawah belerang aktif, ah saya kembali teringat Kawah Ijen. Ada beberapa pendaki yang berjalan mengitari kawah, karena saya dan teman-teman tidak punya banyak waktu, kami hanya berfoto sekenanya sambil menikmati puncak.
 |
urut dari kiri Radit, Mas Jogja, saya, Danu, Jojo, Wiwid, Hanif dan yang di bawah Kinan (hijab hitam), Jeje
berfoto di puncak Mt. Sindoro 3.153 mdpl
|
 |
| salah satu spot favorit saat di puncak |
 |
| nah ini kawahnya, duh maaf fotonya ada saya semua, nyari yang steril gak ada :p |
Baru di gunung Sindoro ini
rasanya benar-benar mendaki, banyak halangan, banyak terjatuh, banyak emosi dan air
mata. Semuanya harus ditata agar tidak berlebihan mulai dari rasa senang dan
bangga karena berhasil sampai puncak, rasa emosi pada kawan, serta perasaan
bahwa saya lemah atau yang lain lemah. Meredam semua egois dan mengumbar rasa
saling berbagi. Dengan kesabaran akhirnya kita ber-9 bisa berfoto bersama di
puncak, puji syukur Alhamdulillah. Hanya ini yang bisa saya ceritakan, hampir
tak ada cerita mistis karena memang saya tak menemukan apa-apa syukurnya. Babi
hutan yang katanya biasa merusak tenda pendaki di pos 3 dan pos sunrise juga tidak
bertemu, bisa dibilang cukup lancar lah pendakian kami.
Dari
puncak kami semua langsung menuju tenda, masak, makan dan
packing. Mengingat
malamnya Wiwid masuk kerja, kami tak berlama-lama istirahat di tenda. Menuju
basecamp pukul 15.40 WIB, semua sampah kami kumpulkan pada
trashbag yang telah
disediakan petugas, sampah dibawa turun ke
basecamp untuk diperiksa. Sepanjang
perjalanan di gunung Sindoro memang minim sampah, salut kepada para petugas dan
kesadaran para pendaki.
 |
| rombongan wanita berfoto sebelum kembali ke basecamp |
Rombongan wanita memutuskan berjalan terlebih dulu. Namun baru beberapa langkah, mental saya
down, tak berani jalan kecuali
berpegangan yang lain. Berhenti untuk menunggu rombongan laki-laki akhirnya
kami berjalan bersama dan saya jadi benalu dengan berpegangan
carrier yang lain.
Sadar sesuatu, karma di gunung itu ada, mungkin ini akibat sempat marah
pada Radit yang beristirahat lama saat
trekking, sayapun minta maaf padanya.
Kurang lebih 2 jam berjalan, kami sampai di
pos ojek, tak terhitung berapa kali tergelincir dan jatuh. Saya sempat gabung
pada rombongan pendaki lain yang berjalan sambil berpegangan
webbing (tali) antar pendaki agar tak terpeleset.
Di
antara yang lain, hanya saya yang naik ojek, karena untuk mempersingkat waktu. Tentu
saja sampai di
basecamp terlebih dulu, sempat membawa
carrier Jojo. Selain sadar kesalahan saya
yang mengumbar emosi, saya juga baru sadar bahwa di setiap perjalanan selalu
ada kawan baru. Mas Jogja yang baru mau menunjukkan identitasnya di
basecamp,
bernama Sinto Harryadi. Dia sampai di
basecamp tak lama setelah saya, membuat susu
hangat untuk saya niatnya, namun saya tolak karena lebih pilih tidur, kaki
sudah tak karuan rasanya. Satu per satu teman-teman menyusul sampai di
basecamp. Sampah yang kami bawa telah diperiksa dan bergegaslah kami pulang ke
rumah Wiwid, berpisah dengan kedua Mas Jogja (Hanif dan Sinto). Saya dan yang
lain memutuskan menginap di rumah Wiwid satu malam lagi sebelum pulang ke
Ngawi. Mas Sinto bilang, bila memutuskan mendaki gunung, kamu hanya akan punya dua pilihan, kembali ke
gunung atau stop. Saya rasa akan kembali lagi, semoga.
Komentar
Posting Komentar