#2 PUNCAK GUNUNG SINDORO 3.153 MDPL


Gunung Sindoro berhadapan langsung dengan gunung Sumbing dan ada beberapa gunung yang berdekatan dengan kedua gunung tersebut bahkan gunung Lawupun juga terlihat. Jajaran gunung di Jawa Tengah memang menyimpan pesonanya. Tak heran banyak pendaki yang jauh-jauh dari luar daerah bahkan luar pulau datang hanya untuk menikmati keindahan alam gunung di Jawa Tengah. Beberapa gunung di Jawa Tengah yang jadi favorit para pendaki antara lain gunung Merbabu, gunung Slamet, gunung Sumbing, gunung Merapi dan gunung Sindoro. Awalnya rombongan kami akan mendaki gunung Sumbing namun akhirnya beralih ke gunung Sindoro via Kledung. Saya sih ngikut saja, karena kurang begitu paham bab pergunungan. Hampir semua outfit dan perlengkapan hasil minjem wkwkwk.
               
sarapan di tenda, jelang subuh sebelum summit
Jam menunjukkan pukul 02.00 WIB, semua nampak gelap. Saya pikir ini mimpi, ternyata beneran berbaring di tenda. Coba pejamkan mata lagi, harapannya buka mata sudah berada di atas kasur di rumah. Ah percuma, nyatanya memang berada di dalam tenda, sedikit sempit dan kegerahan. Suhu di dalam tenda dan di luar tenda sangat jauh berbeda. Pukul 03.16 WIB saya membangunkan teman-teman yang lain, sembari bersiap summit attack. Suhu saat itu kurang lebih 15˚C sebenarnya tak terlalu dingin bagi saya karena mirip suhu di rumah yang pernah mencapai 16˚C namun karena disertai angin, jadi dingin cukup menyerang. Jeje, Wiwid dan Khinan sudah siap summit, kata Mas Jogja ( belum mau diajak kenalan) sarapan dulu sebelum summit. Jeje dan yang lain sempat melahap roti tawar yang dicampur susu coklat, akhirnya mereka bertiga jalan terlebih dulu.
                Tertinggal saya dan rombongan laki-laki. Sembari menunggu mie yang saya masak matang, menengok di depan tenda. Nampak jelas senter dari para pendaki di gunung Sumbing yang berada tepat di hadapan gunung Sindoro. Hal itu menunjukkan para pendaki gunung Sumbing sedang summit bahkan sudah ada yang mendekati puncak pada jam 04.00 WIB. Mas Jogja yang lebih muda sudah diketahui namanya Hanif, dia berada tepat di samping saya, mengenakan sleeping bag dan menekuk lututnya. Setelah semua matang sayapun sarapan nasi, mie goreng dan roti tawar yang dicampur susu coklat, barulah siap summit. Danu dan Jojo tak sabar menunggu yang lain bersiap, mereka berdua pamit dulu. Sisanya baru berangkat selepas subuh, termasuk saya. Jalan masih gelap, menanjak dan penuh batu. Baru sedikit jalan, nafas sudah berat, Radit menyalip, tersisa saya, Hanif dan Mas Jogja yang belum mau kenalan. Katanya kalau saya bisa sampai puncak, baru dia mau memperkenalkan diri. 
                Hanya sebentar kami berjalan menggunakan senter dan headlamp, hari sudah mulai terang. Kami masih dikepung hutan petai cina (Lamtoro, bahasa Jawa) yang tak ada buahnya. Petai cina sejenis sayur, kalau di tempat saya biasanya dibikin campuran pecel. Ah sayangnya petai cina versi gunung tidak bisa dimasak. Hanif sedikit berlari agar segera lolos dari hutan petai cina, ingin menyaksikan sunrise katanya, di tanah lapang. Langkahnya cepat sekali, mungkin karena sudah terbiasa naik gunung atau mungkin langkah saya yang lambat karena tidak pernah naik gunung.
Saya menyaksikan sedikit di balik dedaunan pohon petai cina, hanya sekedar menengok lalu berjalan lambat lagi agar segera lolos area hutan petai cina. Summit ini tak mudah, saya ketinggalan jauh dari rombongan, untunglah ada Mas Jogja satunya yang sabar membersamai langkah saya. Usut punya usut ternyata dia tim SAR. Saya ijin menangis di pos 4 yang memakan waktu kurang lebih 3 jam dan puncak masih jauh.
pemandangan hutan Lamtoro/ petai cina
        “Udah nanti aja nangisnya pas udah sampai puncak, jalan aja dulu tar juga sampai” katanya enteng sambil nyampurin serbuk Nutrisari pada air minum yang ditinggalkan pendaki lain lalu dipungutnya. Saya lanjut berjalan seperti siput sambil menahan air mata yang hampir jatuh. Medan semakin sulit, beberapa pendaki yang sudah turun dari puncak, terpeleset, jatuh dan langkahnya terjeda. Saya minta berhenti lagi, putar balik badan, bernafas sambil menyaksikan kemegahan gunung Sumbing. Mas Jogja
tanaman khas gunung, edelweis di atas area hutan petai cina
berdiri agak pinggir, saya di tengah jalan sudah malas geser. Tiba-tiba ada yang menghantam betis saya, keras sekali, saya kira pendaki lain yang terpeleset rupanya ada bongkahan batu jatuh. Air mata yang sedari tadi saya tahan-tahan akhirnya keluar. Kenapa tidak ada pendaki lain yang memberi peringatan ada batu jatuh seperti di film 5cm? sedikit emosi dan menyalahkan pendaki di kanan dan kiri.
                “Udah gak usah marah-marah, namanya kecelakaan, mungkin mereka semua juga gak lihat” katanya lagi sambil menyodorkan snack dan minuman. Coba meredam amarah, mengingat ini di gunung tak boleh mengumpat, tak boleh sambat (mengeluh, bahasa Jawa) dan sebisa mungkin pulang dengan selamat. Kembali berjalan waspada sambil terus beristighfar, tak terlihat pincang karena medan berhasil menyamarkan. Puncak sudah terlihat, kembali bertemu dengan rombongan Jeje yang rupanya sedari tadi menunggu kawan-kawannya yang tertinggal, pun juga Radit yang tiba-tiba muncul di belakang saya. “Kami sengaja menunggu kalian agar bisa ke puncak bareng dan foto bareng” kata Jeje, membuat semangat saya bangkit kembali. Tinggal beberapa langkah lagi, sangat kelelahan memang, untunglah ada yang menarik trekking pole alami saya (tongkat kayu nemu di jalan)  hingga puncak. Tangis kembali lepas kala memeluk Jeje di puncak, rupanya dia sudah lebih dulu menangis.
penampakan Mas Jogja yang asik nyampurin serbuk Nutrisari (eits iklan haha)
ke botol minuman yang dia temukan

kondisi di puncak, ramai sekali
                Sampai di puncak pukul 10.20 WIB, terdapat papan peringatan yang menghimbau agar para pendaki tidak berada di puncak di atas jam 11.00 WIB, itu artinya hanya 30 menit kami bisa menikmati puncak Sindoro 3.153 Mdpl. Bau belerang akan semakin menyengat di atas jam 11.00 WIB, karena aktivitas vulkanik akan meningkat di atas jam tersebut. Pemandangan di puncak sangat indah meskipun gersang, ada kawah belerang aktif, ah saya kembali teringat Kawah Ijen. Ada beberapa pendaki yang berjalan mengitari kawah, karena saya dan teman-teman tidak punya banyak waktu, kami hanya berfoto sekenanya sambil menikmati puncak.

urut dari kiri Radit, Mas Jogja, saya, Danu, Jojo, Wiwid, Hanif dan yang di bawah Kinan (hijab hitam), Jeje
berfoto di puncak Mt. Sindoro 3.153 mdpl


salah satu spot favorit saat di puncak
nah ini kawahnya, duh maaf fotonya ada saya semua, nyari yang steril gak ada :p

               Baru di gunung Sindoro ini rasanya benar-benar mendaki, banyak halangan, banyak terjatuh, banyak emosi dan air mata. Semuanya harus ditata agar tidak berlebihan mulai dari rasa senang dan bangga karena berhasil sampai puncak, rasa emosi pada kawan, serta perasaan bahwa saya lemah atau yang lain lemah. Meredam semua egois dan mengumbar rasa saling berbagi. Dengan kesabaran akhirnya kita ber-9 bisa berfoto bersama di puncak, puji syukur Alhamdulillah. Hanya ini yang bisa saya ceritakan, hampir tak ada cerita mistis karena memang saya tak menemukan apa-apa syukurnya. Babi hutan yang katanya biasa merusak tenda pendaki di pos 3 dan pos sunrise juga tidak bertemu, bisa dibilang cukup lancar lah pendakian kami.
             Dari puncak kami semua langsung menuju tenda, masak, makan dan packing. Mengingat malamnya Wiwid masuk kerja, kami tak berlama-lama istirahat di tenda. Menuju basecamp pukul 15.40 WIB, semua sampah kami kumpulkan pada trashbag yang telah disediakan petugas, sampah dibawa turun ke basecamp untuk diperiksa. Sepanjang perjalanan di gunung Sindoro memang minim sampah, salut kepada para petugas dan kesadaran para pendaki.
rombongan wanita berfoto sebelum kembali ke basecamp
Rombongan wanita memutuskan berjalan terlebih dulu. Namun baru beberapa langkah, mental saya down, tak berani jalan kecuali berpegangan yang lain. Berhenti untuk menunggu rombongan laki-laki akhirnya kami berjalan bersama dan saya jadi benalu dengan berpegangan carrier yang lain. Sadar sesuatu, karma di gunung itu ada, mungkin ini akibat sempat marah pada Radit yang beristirahat lama saat trekking, sayapun minta maaf padanya.
Kurang lebih 2 jam berjalan, kami sampai di pos ojek, tak terhitung berapa kali tergelincir dan jatuh. Saya sempat gabung pada rombongan pendaki lain yang berjalan sambil berpegangan webbing (tali) antar pendaki agar tak terpeleset.
                Di antara yang lain, hanya saya yang naik ojek, karena untuk mempersingkat waktu. Tentu saja sampai di basecamp terlebih dulu, sempat membawa carrier Jojo. Selain sadar kesalahan saya yang mengumbar emosi, saya juga baru sadar bahwa di setiap perjalanan selalu ada kawan baru. Mas Jogja yang baru mau menunjukkan identitasnya di basecamp, bernama Sinto Harryadi. Dia sampai di basecamp tak lama setelah saya, membuat susu hangat untuk saya niatnya, namun saya tolak karena lebih pilih tidur, kaki sudah tak karuan rasanya. Satu per satu teman-teman menyusul sampai di basecamp. Sampah yang kami bawa telah diperiksa dan bergegaslah kami pulang ke rumah Wiwid, berpisah dengan kedua Mas Jogja (Hanif dan Sinto). Saya dan yang lain memutuskan menginap di rumah Wiwid satu malam lagi sebelum pulang ke Ngawi. Mas Sinto bilang, bila memutuskan mendaki gunung, kamu hanya akan punya dua pilihan, kembali ke gunung atau stop. Saya rasa akan kembali lagi, semoga.



Komentar