Bisa dibilang ini pendakian pertama, sebelumnya memang sudah mendaki gunung Lawu namun saya hanya bawa ransel biasa, tidak memasak ala-ala pendaki alias makan di warung, tidak mendirikan tenda, bermalam di warung. Ditemani sahabat saya, Pitaloka, Ruli dan Desta, kami memutuskan naik Gunung Lawu ala kadarnya. Kesempatan kali ini, Radit (kenalan pramuka saat SMA) mengajak saya ikut rombongannya untuk mendaki gunung Sindoro. Awalnya sempat menolak karena tidak memiliki peralatan, namun sepertinya tekat Radit bulat untuk mengajak saya naik gunung. Perlengkapan naik gunung seperti carier, Sleeping bag, dan trekking pole sudah ia siapkan. Tak hanya untuk saya namun juga untuk Kinanthi, salah satu anggota rombongan. Tak kenal sapa-siapa waktu itu, hanya Radit, itupun juga sudah sangat lama kami tidak bertemu sejak lulus SMA. Meeting point di rumah Radit, saya sempat kesasar karena google maps yang ia kirim tidak sesuai dengan alamat rumahnya.
Di sana
saya berkenalan dengan Kinan, siswi kelas 3 SMA yang ikut naik gunung, waw saya
kelas 3 SMA ngapain ya waktu itu? wkwkwk fokus belajar mungkin, khawatir tidak
lulus, tak seberani Kinan. Kami bertiga berangkat dari Ngawi lewat jalur Sine
lanjut Sragen lalu Salatiga untuk bertemu kawan lain. Sayangnya kami berangkat
agak telat, sampai di Salatiga dini hari, rencana awal ingin lanjut ke basecamp
Sindoro via Kledung di Temanggung, terpaksa kami batalkan karena kelelahan. Di Salatiga
kami menginap di rumah Wiwid, dia juga akan ikut ke Sindoro, di sana saya
kembali berkenalan dengan kawan lain yakni Wiwid, Jojo dan Jeje, kakak beradik
yang ikut mendaki pula, jadilah kita ber-6 menuju ke basecamp Kledung. Kurang
lebih 4 jam perjalanan, motor Radit yang saya naiki sempat tergelincir karena
tidak kuat nanjak dan saya nyasar lagi haha, ketinggalan rombongan.
Berboncengan
dengan Kinan, kami memutuskan tanya warga setempat. Ada dua jalur menuju Sindoro,
Radit dan yang lain telah tiba di basecamp Kledung sedangkan saya dan Kinan di
basecamp satunya, astaga. Beberapa menit kemudian kami tiba di Kledung,
registrasi, rupanya petugas basecamp membongkar isi carier kami. Tisu
basah saya disita, entah kenapa, belum paham apa-apa waktu itu, kami diharuskan
sesuai standart keamanan. Oy ada satu kawan lagi yang akan ikut rombongan kami,
Danu namanya. Kelar pemeriksaan, berdo’a bersama lalu kami mulai pendakia
dengan berjalan kaki. Ada ojek sih hingga pos 1,5 namun kami sepakat jalan
kaki. Ada 2 orang asing yang membersamai pendakian, entah siapa namanya, mereka
tidak memperkenalkan diri atau mengajak kami berbicara kalau kami tidak
bertanya duluan. Ya sudahlah kami berjalan beriringan dengan 2 orang asal Jogja
tersebut.
![]() |
| salah satu petugas memeriksa isi carier kami |
![]() |
| peta yang tertempel di basecamp |
Cukup lama
menuju pos 1, kurang lebih 2,5 jam. Istirahat, salat dhuhur (bersuci dengan
tayamum) dan makan siang, makan seadanya karena saya pribadi hanya membawa
camilan biskuit serta buah. Untungnya 2 mas mas asal Jogja yang memakai baju
orange (tu kan jadi susah nyebut karena belum kenalan, hish) menawari kami nasi
goreng. Tak habis pikir si Jojo membawa semangka, Wiwid membawa biskuit plus
kalengnya, 2 bungkus kerupuk yang dicantolkan di cariernya, 2 mas Jogja
tadi (nah begini saja ya manggilnya) bawa carier yang isinya hampir
semua logistic, astaga apakah begini cara pendaki bersenang-senang ya?
![]() |
| Pos 1,5 tempat pemberhentian ojek terakhir |
Setelah
tenaga lumayan terisi kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2, saya baru tahu
kalau di pos 1,5 merupakan pos ojek terakhir dan ada dua warung di sana. Saya,
Jeje dan 2 mas Jogja tadi telah tiba duluan, cukup lama kami menunggu kawan
satu rombongan. Saya memutuskan makan lagi karena tadi tak cukup makan
(kebagian sedikit nasi goreng), baru pesan mie kuah rupanya yang lain sudah
tiba. Ada yang tinggal ada yang melanjutkan perjalanan. Saya, Kinan dan Radit
memutuskan untuk tinggal, mengisi perut lagi.
Jangan
memaksakan diri saat di gunung, kalau capek, segera bilang lalu istirahat, tak
perlu gengsi. Kalau lapar ya makanlah sesuatu, upaya tersebut akan menyelematkanmu
saat berada di gunung.
Pos 2 tak terlalu jauh dari pos
ojek, akhirnya kami bertemu salah satu dari mas Jogja tadi, Wiwid yang sedang
masak air dan Jeje, selebihnya menuju pos selanjutnya agar bisa lebih awal
mendirikan tenda katanya. Saya kebelet buang air kecil, mengajak Jeje mencari
semak-semak yang agak tak terlihat namun tak terlalu jauh, takut kami hilang. Permisi
kepada alam lalu buang air, di sini saya baru sadar kenapa tisu basah tidak
boleh dibawa ke gunung. Andaikan tisu basah tidak disita pasti akan saya
gunakan untuk membersihkan selepas buang air lalu membuangnya, rupanya begitu,
meminimalisir sampah gunung. Cebok menggunakan air yang saya bawa di botol
kecil lalu Jeje mengikuti apa yang saya lakukan. Hal ini saya tulis, bukan bermaksud
jorok atau yang lain, semoga bisa jadi pengetahuan dan bisa dipraktikkan saat
berada di gunung.
![]() |
| jalur menuju pos 3 |
Awalnya
kami berjalan bersama menuju pos 3, entah kapan Wiwid dan Jeje tak lagi
terlihat. Tersisa saya, Kinan, salah satu mas Jogja dan Radit, saya merasa
sedikit emosi karena tidak sampai-sampai, menunggu Radit yang istirahat cukup
lama, tak cukup istirahat, dia juga ngobrol dengan pendaki lain cukup lama. Bermaksud
tidak meninggalkan dia, saya menegurnya sedikit emosi “Ayo lebih cepet, biar
cepet istirahat” ada sedikit penyesalan saat sedikit membentaknya. Hari gelap,
adzan magrib berkumandang, kabut datang, kami menyalakan senter berjalan lambat
menuju pos 3. Banyak tenda di pos 3, Radit berusaha mencari tenda rombongan
kami, namun tidak menemukannya. Adzan isya berkumandang, saya kelelahan dan
minta istirahat di pos 3 sekaligus menunaikan magrib dan isya, Kinanti menemani
saya. Radit ditemani mas Jogja mencari rombongan yang ternyata sudah mendirikan
tenda di tanah lapang sedikit di atas pos 3.
Bersambung,







Komentar
Posting Komentar