LAMPUNG, sudah di depan mata, masih mengantre tiket menuju stasiun Merak di stasiun Serang. Tarif tiket
kereta menuju Merak hanya RP. 3.000,- kalau ketinggalan kereta, bisa naik bus
menuju Merak dengan tarif Rp. 10.000,-. Lumayan deg-degan, sembari menunggu loket
buka, saya sempatkan menelpon Emak di kampung. Kebetulan ada rombongan TK yang
akan bertamasya ke pelabuhan Bakauheni, stasiun Serang ramai sekali. Keadaan
tersebut saya ceritakan kepada Emak, nantinya tak sendirian menuju Bakauheni.
Tujuan kami sama, ah tinggal ngekor aja kan, pikir saya dalam hati.
“Mbak, ini kereta arah ke Depok
bukan ya?” tanya seorang Bapak kepada saya.
“Loh beda arah Pak, kalau mau ke
Depok nunggu jadwal kereta selanjutnya jam 11.22 WIB, berhenti di Rangkasbitung
dulu” terang saya.
“Mbaknya asli Serang?” tanyanya
lagi.
“Saya dari Ngawi, Jawa Timur,
pengen main ke Lampung sendirian. Pareng (*permisi) Pak” saya menghambur
pergi menuju gerbong kereta yang sedari tadi parkir.
“Siapa Pak? sodaranya ya?” tanya
penumpang lain kepada Bapak tadi.
“Bukan, dia solo traveler asal
Ngawi mau ke Lampung” sempat mendengar obrolan mereka, ini kali pertama
ada orang yang paham maksud perjalanan saya.
![]() |
| suasana stasiun Serang yang dipenuhi rombongan TK |
Biasanya tiap bertemu orang baru, sering dilempari banyak pertanyaan yang sedikit mengganggu dan menyita waktu,
tanpa saya ketahui maksud dan tujuan mereka bertanya. Mendengar obrolan bapak
tadi tak membuat saya memalingkan wajah, tetap berjalan lurus menuju gerbong
sambil tersenyum. Hah akhirnya mendapatkan kursi nyaman di kereta menuju
Merak ini, duduk sendirian di pinggir kaca, meski cuma sebentar sih. Hujan
mengguyur sepanjang perjalanan menuju Merak, rombongan TK tadi beda gerbong
dengan saya. Perjalanan kereta dari stasiun Serang menuju stasiun Merak kurang
lebih selama satu jam. Tiba di Merak pukul 10.00 WIB, sempat bingung
karena diminta kartu kapal (E-money). Catatan perjalanan yang ditulis
Umi (sahabat pramuPr saat SMA) selama ini saya jadikan patokan, dan di sana tertulis harga tiket kapal Rp.15.000,-. Tapi kali ini diwajibkan
membeli kartu khusus atau e-money seharga Rp. 45.000,-. Yaaah budget lumayan mepet ini,
semoga cukup lah sampai Lampung, harap saya.
![]() |
| KTP, Kartu e-money, dan bill pembayaran, tiga benda ini wajib ditunjukkan ke petugas sebelum masuk kapal |
| suasana di dermaga |
| kursi ruang eksekutif |
| suasana di ruang ekonomi |
| ruang mushala |
Tepatnya sudah seminggu
diberlakukan pembayaran tiket kapal non tunai, Umi ke Lampung bulan September
jadi peraturan baru tersebut belum berlaku, ya gak apa-apa deh sedikit apes,
namun kartu tersebut bisa digunakan seterusnya. Seperti rencana awal, saya
ngekor rombongan TK, tapi ada banyak penumpang yang antre bukan di deretan
rombongan TK. Saya masuk dengan gampang tanpa melalui proses pengecekan, hmm
sepertinya saya salah masuk. Tanya kepada petugas yang berseragam, diarahkan
ikut antre dengan calon penumpang lain. Mungkin rombongan TK tadi sudah menyewa
kapal khusus atau entahlah saya kurang paham, jadi tidak melalui proses antre
dan pengecekan tiket. Saya coba bertanya kepada penumpang lain, beliau menemani hingga masuk kapal dan menawarkan diri untuk menemani saya sampai
Rajabasa, padahal tujuan beliau bukan ke Rajabasa. Saya diajak duduk di ruang
eksekutif dan diminta menemani beliau ngobrol. Usut punya usut ternyata beliau
Duda yang akan menikah lagi, saya diprospek tentang jasa beliau yang bisa
mengabulkan keinginan, semacam dukun. Merasa mulai tidak nyaman, dan lebih tidak nyaman lagi saat calon istrinya menelpon video.
Dengan dalih ingin keliling
kapal, saya pamit meninggalkan bapak tadi. Lebih baik ke Bakauheni menuju
terminal Rajabasa sendirian dari pada ditemani seseorang yang membuat tidak nyaman. Kapal dibagi dua kelas, kelas ekonomi dan kelas eksekutif. Di kelas
ekonomi semuanya gratis, namun ada tarif khusus bila masuk ke kelas eksekutif.
Cara membedakan dua kelas ini cukup gampang, perhatikan tulisan di
pintu atau dinding kapal. Bila tidak ada tulisan tarif khusus, berarti
fasilitas tersebut gratis. Ruang ekonomi tak kalah nyaman dengan eksekutif,
kapal lumayan sepi, saya bebas pilih kursi dan duduk dengan tenang. Di kapal
atau kendaraan umum lain, sudah hal wajar bila ada pedagang asongan. Cara
menawarkan barang dagangannya-pun beragam, seperti di kapal ini. Awalnya si
pedagang memberi arahan menggunakan pelampung dalam keadaan darurat. Sudah
otomatis semua penumpang memerhatikannya, barulah si pedagang menawarkan barang
dagangannya berupa minyak gosok, cukup kreatif.
Menunaikan shalat dhuhur
berjama’ah di mushala kapal, seusai shalat, jama’ah lain yang ternyata satu
keluarga tersebut mengajak berkenalan. Entah prihatin atau bagaimana, mereka
menawarkan tumpangan kepada saya hingga Bandar Lampung. Bu Heti (salah satu
dari mereka) menjelaskan bahwa rombongan tersebut hendak mengantar jenazah yang
tak lain adalah ayah Bu Heti, ke Bandar Lampung. Bu Heti tak tega melihat saya
yang sendirian menuju Bandar Lampung, tujuan saya ke Gramedia Raden Intan
menghadiri bedah buku Fiersa Besari (traveler, penulis sekaligus pemusik). Saya
menerima tawaran Bu Heti, kemudian berkenalan dengan anggota rombongan lain,
Hera (adik Bu Heti) dan Pak Endang. Kami ngobrol cukup panjang, ternyata Hera ini seorang perawat dan beberapa bulan lagi akan menikah, namun ayahnya
baru saja berpulang, saya mengucapkan turut berbela sungkawa dengan Hera.
| bersama Hera (kaca mata) dan keluarganya, kami berfoto di samping ambulan Jenazah |
Hera berada di ambulan Jenazah,
menemani mendiang ayahnya. Saya satu mobil dengan Pak Endang, karena beliau
yang tahu jalur menuju Bandar Lampung. Sebelum menuju Bandar Lampung
(selanjutnya saya tulis Balam, capek euy) Bu Heti mengajak rombongan iringan
jenazah untuk makan, kami berhenti di salah satu Rumah makan masakan Padang.
Sepertinya saya belum pernah merasakan “Rendang”, sering nonton liputan tentang
rendang, membuat pilihan jatuh kemenu rendang. Rasa rendang lumayan cocok
di lidah, bumbunya kental dan sepertinya saya ketagihan hehe. Bisa dibilang
kami makan dengan kilat, kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Sirine ambulan
memecah keheningan, kendaraan lain tak lantas mengalah, cukup kaget dengan
keadaan ini. Mobil dan motor melaju seperti takut kehabisan ruang. sepanjang jalan menuju Balam nampak kebun pisang, kadang sawit, Oooo ini
ya tanah Lampung? saya tak berhenti kagum menatap kaca mobil. Iringan mobil jenazah
tidak berhenti di Gramedia, saya minta diturunkan di mushala terdekat. Dan
kamipun berpisah, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh rombongan lalu
iringan mobil langsung kembali melesat.
Istirahat sejenak di mushala
POM bensin dan memesan ojek online menuju Gramedia, dengan tarif Rp. 6.000,-. Acara
digelar masih pukul 19.00 WIB, saya sampai di Gramedia Raden Intan sekitar
pukul 16.30 WIB namun antrean tiket sudah sangat panjang. Tiket berupa buku
yang ditulis Fiersa berjudul 11 : 11, lantas membeli 2 buku untuk sahabat Umi
yang dimintai tolong menemani saya, Mas Pit namanya dan otomatis nantinya jadi
sahabat perjalanan saya keliling Balam. Ada pengantre tiket lain yang mengajak
kenalan, Salsa namanya, dia sendirian dan meminta saya menemaninya sepanjang
acara berlangsung. Salsa heran melihat saya nenteng ransel besar, rasa
penasarannya makin bertambah setelah kami berkenalan. Salsa sempat memberi
tawaran, supaya saya menginap di kediamannya. Namun saya belum koordinasi dengan
Mas Pit, belum bertemu juga saat itu. Adzan maghrib, samar-samar terdengar,
sebagian ada yang memutuskan turun menuju mushala Gramedia, sebagian ada yang
tetap tinggal di venue lantai dua. Seusai shalat, masih menunggui HP
yang saya cas di depan mushala, dan tiba-tiba si Fiersa lewat. Jaraknya
kira-kira 30cm di depan mata saya, pengunjung lainnya pada bisik-bisik karena
memang sosok Fiersa ini cukup digemari dikalangan anak muda.
Jelang acara berlangsung, semua
bersorak meneriakan nama Fiersa, histeris. Saya berjaga di pintu masuk, masih
menunggu Mas Pit, khawatir dia nanti gak menemukan saya, karena memang dari
awal dia belum tahu wujud saya. Sedangkan saya masih mending sih, pernah lihat
fotonya di Blog Umi. Sampai si Fiersa sudah menyapa penonton, Mas Pit belum
juga terlihat, itu kali pertama saya ketemu Fiersa dan Mas Pit tentunya wkwkwk. Nampak laki-laki gondrong, tinggi besar menaiki tangga dengan langkah
ragu-ragu. Sesuai prediksi, langsung menghadangnya dan mengajak ke tempat yang
sudah saya booking dan titipkan ke Salsa sebelumnya. Kami tidak kenalan,
sudah lumayan ngobrol sih di chat Wa, jadi yaa langsung fokus acara saja hehe.
“Ini Mas, bukumu, udah saya
registrasiin sekalian tadi, ini buku dari Umi” sambil menyodorkan buku Fiersa
11 : 11.
Mas Pit terlihat tak bisa
bergerak karena memang venue penuh sekali. Saya excited menunggu sesi
sharing buku sambil makan apel, yang ternyata tidak ada. Fiersa hanya
membaca satu bab buku dan menyanyikan sebuah lagu. Mengecewakan, ini acara yang
cukup membosankan bagi saya. Tanpa ikut antre foto, saya pamit meninggalkan
lokasi kepada Salsa yang masih berusaha bisa foto bareng Fiersa. Saya diajak
Mas Pit ke warung Mie Ayam, selain suka sawi saya juga suka mie ayam (yang ada
sawinya). Sambal cabai asli dikemas di botol kaca, biasanya kan hanya disajikan
di mangkuk. Mengamati tiap sudut warung, meja hingga hidangan, “oh ini to
Lampung” mulut saa tak berhenti bergumam.
![]() |
| Ini Salsa yang akhirnya berhasil foto dengan Fiersa setelah melewati antrean panjang |
Lampung merupakan provinsi paling
selatan Pulau Sumatra, dihuni oleh 2 penduduk yang berbeda. Lampung terkenal
dengan slogannya “Sai Bumi Ruwa Jurai” yang berarti satu bumi yang dihuni dua
penduduk, yakni penduduk Saibatin atau pendatang dan Pepadun. Sepanjang jalan,
saya menemukan banyak Siger (lambang khas Lampung) ada di rumah-rumah,
pertokoan, di bank, kantor, di mana-mana ada Siger.
![]() |
| Mas Jep, saya dan Mas Pit, Gita belum mau difoto hehe |
Selanjutnya saya diajak Mas Pit
berkenalan dengan Gita dan Mas Jep, mereka pasangan pengantin baru. Dulu Umi ke
Lampung untuk menghadiri pernikahan Gita dan Mas Jep, saya berniat ikut sih
tapi keadaan belum mendukung. Kami ber-4 ngopi dan ngobrol di teras rumah
pasangan baru tersebut. Nampak mereka semua kangen dengan sahabat saya Umi,
yang saat ini masih bekerja di Surabaya. Saya menyampaikan salam rindu dari Umi
dan saling berbagi cerita hingga larut malam, rupanya Gita tengah hamil muda. Saya
disilakan istirahat bersama Sela, adik Mas Jep di kamar Sela. Sepertinya hari
itu cukup melelahkan, esok hari saya akan diajak jalan-jalan kata Gita, saya
lantas istirahat sedangkan mereka masih ngobrol hingga entah jam berapa.
Bersambung…….






Naik kapal & Ketemu Fiersa Besari sepertinya pengalaman yang paling best
BalasHapusHihi makasih Pit, but aku tetep rindu naik gunung sama kamu
Hapuslo itu lak e-money, sudah ganti e-money ya sekarang naik kapalnya, klau punya e-money yg dipake buat naik KRL itu bisa juga dipake buat naik kapal li. mereka sama aja.
BalasHapusbtw itu sempet2nya foto sama Hera ya ternyata.
Iya sama mi, bisa juga buat kereta.
HapusAwalnya keluarga Hera bilang nanti nanti, aku khawatir nek gak bisa foto bareng. Dan ternyata benar, setelah aku turun kita langsung terpisah. Untung sek sempet foto pas di kapal.
Mantap teh... 👍
HapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus