PERJALANAN MARATON BERAKHIR DI JEMBATAN SURAMADU


               
         
         Jadwal yang tiada kosong membuat kerinduan saya pada teman-teman semakin bertambah, terlebih mereka yang saya maksud berada di luar kota, pulau bahkan luar negeri. Setiap kamis, komunitas penulis Karanganyar, Jawa Tengah selalu rutin mengadakan bedah cerpen para membernya. Mereka tergabung dalam komunitas “Kamar Kata” yang digawangi oleh Pak Yudhiteha, beliau sendiri merupakan penulis Karanganyar yang produktif. Kamis 14 Maret 2019, saya diminta mengikuti Bimbimngan Teknis dari Kementrian Pariwisata, acara tersebut berlangsung hingga sore.    https://kampoengngawi.com/file.post.news/pegiat-media-sosial-dilibatkan-dalam-bimtek-sinkronisasi-promosi-wisata-pasar-asia-pasifik-dan-amerika/
               
                  Tak terlintas pengen gabung dalam diskusi cerpen di Karanganyar waktu itu. Menyelesaikan tugas hingga bakda magrib, entah kenapa saya langsung tancap gas ke terminal, menitipkan motor lalu naik bus menuju Palur (Jawa Tengah) mendadak ingin ikut diskusi. Dengan tarif Rp 14.000,- perjalanan menuju Palur dimulai, kurang lebih 2 jam berada di bus. Ruly sahabat saya yang juga tergabung dalam komunitas Kamar Kata yang menjemput di Palur. Lokasi diskusi lumayan jauh dari Palur, biasanya kalau siang masih bisa naik angkot dengan tarif Rp. 4.000,- namun angkot hanya ada hingga sore saja. Lama juga tak bertemu Ruly, ada setahun lebih sepertinya, kami naik motor menuju kafe tempat diskusi, tiba-tiba rasanya seperti memasuki dunia lain karena semua gelap. Pemadaman listrik bergilir kata Ruly, termasuk saat tiba di kafe tempat diskusi, semuanya gelap, sumber cahaya hanya lilin dan cahaya HP.
bersama komunitas Kamar Kata, Karanganyar

                Biasanya diskusi dimulai pukul 20.30 WIB, namun waktu itu baru mulai pukul 22.00 WIB, tepat setelah saya tiba. Kami larut membedah cerpen masing-masing (kecuali cerpen saya) hingga dini hari. Ingin rasanya tidur di meja kafe, tapi momen langka ini jarang saya temui. Ada sahabat saya satu lagi, Mas Is namanya, selain bergiat diliterasi, beliau juga bergiat dibidang budaya. Tak datang malam itu karena di tengah perjalanan menuju Karanganyar, beliau menyaksikan ada kecelakaan dan memilih menolong para korban. Langsung pamit pulang setelah diskusi usai, karena jum’at pagi masih masuk kerja. Agar tidak telat, saya memutuskan untuk tidur di kantor. Jum’at sore baru pulang dan istirahat di rumah.
***
                Sabtu 16 Maret 2019, janjian bertemu dengan kawan asal Lombok, Bang Ical namanya. Dia juga pegiat literasi, sabtu pagi mengisi seminar di Unmuh Ponorogo. Namun saya ke Ponorogo setelah pulang kerja pukul 13.00 WIB. Tak langsung menemui Bang Ical karena dia masih sibuk dengan para panitia penyelenggara. Kebetulan sore itu ada diskusi komunitas Stand Up Comedy (SUC) di Ponorogo, saya gabung dengan mereka terlebih dulu sebelum bertemu Bang Ical. Yaah namanya komunitas SUC kalau gak lucu ya pasti ricuh. Muka kami tak ada yang bersih, semua acak-acakan karena dicoret-coret, ceritanya kami bikin challenge materi lucu, dan semua pada absurd. Sore hampir habis, Bang Ical tak kunjung longgar, tak  apa sih, toh saya menginap di Ponorogo. Karena si Fianita (member cewek SUC) sudah pamit dulu, maka saya, Enggar, dan Mas Yud nebeng ashar di kontrakan Kang Ahmed.
ini Bang Ical, penulis asal Lombok

penjual durian di telaga Ngebel ini berjualan dari pagi hingga malam
            Kang Ahmed saat itu sedang ada program mondok di Al-Manaar Unmuh, dan Bang Ical kebetulan juga di sana. Kami semua meninggalkan kontrakan, saya ke Al-Manaar diantar Kang Ahmed. Semua teman-teman cowok memang saya panggil berbeda. Bang Ical asal Lombok, kalau di Lombok sana biasa dipanggil Abang, Mas Yud asli orang Jawa, jadi manggilnya cukup “Mas”, berbeda lagi dengan Kang Ahmed asal Banten, pilihannya cuma 2, dipanggil “Kang” atau Aa’ (panggilan sayang) wkwkwk. Untuk menghormati karena dia lebih tua maka saya panggil “Kang” saja, gak ada Aa-Aaan di sini. Okay baiklah, akhirnya saya bertemu dengan Bang Ical di depan gerbang Ponpes, Kang Ahmed langsung masuk Ponpes sedangkan saya diajak ke Telaga Ngebel bersama panitia penyelenggara dan Bang Ical tentunya. Ngebel lumayan dingin waktu itu, sepanjang perjalanan melewati kebun durian, dan setelah sampai lokasi ternyata saya diajak makan durian. Sangat jarang berkesempatan makan durian (mahal, Bro) akhirnya malam itu bisa puas makan durian hehe, terima kasih semuanya.
                Dan mendadak mendapat kabar kalau harus berangkat ke Surabaya malam itu juga, ikut rombongan Polres Ngawi. Tak banyak waktu untuk ngobrol dan sharing ilmu dengan Bang Ical, tak apa lah setidaknya kami sudah sempat bersua. Tancap gas lagi menuju Ngawi tidak jadi bermalam di kota Reog, rombongan berangkat pukul 01.00 WIB. Hampir teler setelah sampai Ngawi, ditemani Risma dan Nurul, kami berangkat ke Surabaya untuk mengikuti kegiatan jalan sehat bersama Polda Jatim. Untuk menghemat tenaga, sebisa mungkin saya niatkan tidur di bus. Rombongan Polres Ngawi melaju menuju Surabaya. Karanganyar, Ponorogo, Ngawi, Surabaya, sehat saya jalan-jalan setiap hari haha.
***
                Karena warga se-Jatim tumpah di sekitaran Suramadu, kami bertiga kesulitan menemukan toilet, terlebih saya belum sholat subuh waktu itu. Beruntung saya menemukan mushala serta toilet di area pabrik yang sebenarnya bukan toilet umum. Namun takmir mushala memaklumi dan meminta saya lompat pagar agar bisa masuk, demi menjadi pejuang subuh akhirnya saya ancang-ancang lalu lompat pagar. Nurul dan Risma masih bertahan di antrean toilet umum, seusai dari mushala saya menjemput mereka berdua yang masih terjebak di antrean panjang. Awalnya kami tidak diijinkan masuk oleh Satpam pabrik, namun saya coba beri pengertian dan Pak Satpam berbaik hati mengijinkan Nurul dan Risma masuk. Saya menunggu mereka di depan pagar. HP terus menunjukkan banyak chat masuk dan panggilan masuk yang tak lain dari Pak Purwo (penanggung jawab rombongan Polres Ngawi).
               
lautan manusia di jembatan Suramadu
             Seluruh rombongan diminta berkumpul di depan bus, Nurul dan Risma yang baru keluar saya ajak lari menuju parkiran. Rombongan terlanjur berangkat jalan sehat, untung ada salah satu ibu-ibu dari rombongan yang memanggil kami. Syukurlah kami bisa berjalan beriringan dengan rombongan Ngawi. Hari masih pagi, suasana di sepanjang jembatan Suramadu dipadati peserta jalan sehat. Jalan sehat tersebut untuk memperingati Puncak Millenial Road Safety Festival. Acara ini digelar serentak di seluruh Indonesia. Biasanya kendaraan yang melewati jembatan Suramadu tidak diperkenankan berhenti. Namun saat itu jembatan disterilkan untuk menggelar acara. Kami bebas jalan-jalan serta ambil gambar di sepanjang jembatan, menikmati pagi dan laut. Dalam acara tersebut, juga dibentangkan bendera merah putih di sepanjang jembatan. Bendera merah putih yang dibentangkan sepanjang 5,4 km membuat hati kami terenyuh, terlebih kami bertiga juga ikut membentangkan Sang Saka.
Nurul, saya dan Risma

Baru-baru ini sosial media dihebohkan dengan  fenomena air dua warna di selat Madura, sayangnya waktu itu kami bertiga tidak menjumpai fenomena tersebut. Penata teknis penelitian oseanografi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) Ahmad Bayhaqi menamai fenomena tersebut dengan istilah “Front”. Feomena front terjadi akibat peningkatan garam yang terkandung dalam dua perairan berbeda. Karena tidak beruntung menjumpai front, kami hanya duduk santai di tepian jembatan untuk menikmati laut. Panggung utama sebenarnya ada di ujung jembatan Suramadu, harus menempuh jarak 5,4 km dulu untuk sampai di panggung utama. Kami memutuskan untuk berhenti di tengah jembatan, kira-kira dijarak 2,5 km. Perjalanan Ngawi-Surabaya cukup menguras tenaga kami, terlebih saya yang belum sarapan. Di tengah ribuan orang, saya hilang dalam kerinduan. Bersyukur, meski hanya sebentar, masih diberikan kesempatan bertemu dengan kawan jauh, Komunitas Kamar Kata Karanganyar, Komunitas SUC Ponorogo, Bang Ical hingga ke Surabaya bersama Nurul dan Risma. Meski pada awalnya keberangkatan ke Surabaya diwarnai perdebatan, namun akhirnya kami bisa larut dalam kebersamaan, terima kasih Nurul dan Risma yang meskipun sibuk namun tetap bersedia berangkat. Terima kasih teman-teman semua yang akan awet dalam ingatan serta catatan in. Sampai jumpa di cerita perjalanan selanjutnya…..






Komentar