Jadwal yang tiada kosong membuat kerinduan saya pada teman-teman semakin bertambah, terlebih mereka yang saya maksud berada di luar kota, pulau bahkan luar negeri. Setiap kamis, komunitas penulis Karanganyar, Jawa Tengah selalu rutin mengadakan bedah cerpen para membernya. Mereka tergabung dalam komunitas “Kamar Kata” yang digawangi oleh Pak Yudhiteha, beliau sendiri merupakan penulis Karanganyar yang produktif. Kamis 14 Maret 2019, saya diminta mengikuti Bimbimngan Teknis dari Kementrian Pariwisata, acara tersebut berlangsung hingga sore. https://kampoengngawi.com/file.post.news/pegiat-media-sosial-dilibatkan-dalam-bimtek-sinkronisasi-promosi-wisata-pasar-asia-pasifik-dan-amerika/
![]() |
| bersama komunitas Kamar Kata, Karanganyar |
Biasanya
diskusi dimulai pukul 20.30 WIB, namun waktu itu baru mulai pukul 22.00 WIB,
tepat setelah saya tiba. Kami larut membedah cerpen masing-masing (kecuali
cerpen saya) hingga dini hari. Ingin rasanya tidur di meja kafe, tapi momen
langka ini jarang saya temui. Ada sahabat saya satu lagi, Mas Is
namanya, selain bergiat diliterasi, beliau juga bergiat dibidang budaya. Tak
datang malam itu karena di tengah perjalanan menuju Karanganyar, beliau
menyaksikan ada kecelakaan dan memilih menolong para korban. Langsung
pamit pulang setelah diskusi usai, karena jum’at pagi masih masuk kerja. Agar
tidak telat, saya memutuskan untuk tidur di kantor. Jum’at sore baru pulang dan
istirahat di rumah.
***
Sabtu
16 Maret 2019, janjian bertemu dengan kawan asal Lombok, Bang Ical namanya. Dia
juga pegiat literasi, sabtu pagi mengisi seminar di Unmuh Ponorogo. Namun saya
ke Ponorogo setelah pulang kerja pukul 13.00 WIB. Tak langsung menemui Bang
Ical karena dia masih sibuk dengan para panitia penyelenggara. Kebetulan sore
itu ada diskusi komunitas Stand Up Comedy (SUC) di Ponorogo, saya gabung dengan
mereka terlebih dulu sebelum bertemu Bang Ical. Yaah namanya komunitas SUC
kalau gak lucu ya pasti ricuh. Muka kami tak ada yang bersih, semua acak-acakan
karena dicoret-coret, ceritanya kami bikin challenge materi lucu, dan
semua pada absurd. Sore hampir habis, Bang Ical tak kunjung longgar, tak apa sih, toh saya menginap di Ponorogo. Karena si
Fianita (member cewek SUC) sudah pamit dulu, maka saya, Enggar, dan Mas Yud
nebeng ashar di kontrakan Kang Ahmed.
![]() |
| ini Bang Ical, penulis asal Lombok |
![]() |
| penjual durian di telaga Ngebel ini berjualan dari pagi hingga malam |
Kang
Ahmed saat itu sedang ada program mondok di Al-Manaar Unmuh, dan Bang Ical
kebetulan juga di sana. Kami semua meninggalkan kontrakan, saya ke Al-Manaar
diantar Kang Ahmed. Semua teman-teman cowok memang saya panggil berbeda. Bang
Ical asal Lombok, kalau di Lombok sana biasa dipanggil Abang, Mas Yud asli orang
Jawa, jadi manggilnya cukup “Mas”, berbeda lagi dengan Kang Ahmed asal Banten,
pilihannya cuma 2, dipanggil “Kang” atau Aa’ (panggilan sayang) wkwkwk. Untuk
menghormati karena dia lebih tua maka saya panggil “Kang” saja, gak ada Aa-Aaan
di sini. Okay baiklah, akhirnya saya bertemu dengan Bang Ical di depan gerbang
Ponpes, Kang Ahmed langsung masuk Ponpes sedangkan saya diajak ke Telaga Ngebel
bersama panitia penyelenggara dan Bang Ical tentunya. Ngebel lumayan dingin waktu
itu, sepanjang perjalanan melewati kebun durian, dan setelah sampai lokasi
ternyata saya diajak makan durian. Sangat jarang berkesempatan makan durian
(mahal, Bro) akhirnya malam itu bisa puas makan durian hehe, terima kasih
semuanya.
Dan mendadak
mendapat kabar kalau harus berangkat ke Surabaya malam itu juga, ikut rombongan
Polres Ngawi. Tak banyak waktu untuk ngobrol dan sharing ilmu dengan
Bang Ical, tak apa lah setidaknya kami sudah sempat bersua. Tancap gas lagi
menuju Ngawi tidak jadi bermalam di kota Reog, rombongan berangkat pukul 01.00 WIB. Hampir teler setelah sampai
Ngawi, ditemani Risma dan Nurul, kami berangkat ke Surabaya untuk mengikuti
kegiatan jalan sehat bersama Polda Jatim. Untuk menghemat tenaga, sebisa
mungkin saya niatkan tidur di bus. Rombongan Polres Ngawi melaju menuju
Surabaya. Karanganyar, Ponorogo, Ngawi, Surabaya, sehat saya jalan-jalan setiap
hari haha.
***
Karena
warga se-Jatim tumpah di sekitaran Suramadu, kami bertiga kesulitan menemukan
toilet, terlebih saya belum sholat subuh waktu itu. Beruntung saya menemukan
mushala serta toilet di area pabrik yang sebenarnya bukan toilet umum. Namun takmir
mushala memaklumi dan meminta saya lompat pagar agar bisa masuk, demi menjadi
pejuang subuh akhirnya saya ancang-ancang lalu lompat pagar. Nurul dan Risma
masih bertahan di antrean toilet umum, seusai dari mushala saya menjemput
mereka berdua yang masih terjebak di antrean panjang. Awalnya kami tidak
diijinkan masuk oleh Satpam pabrik, namun saya coba beri pengertian dan Pak
Satpam berbaik hati mengijinkan Nurul dan Risma masuk. Saya menunggu mereka di
depan pagar. HP terus menunjukkan banyak chat masuk dan panggilan masuk yang
tak lain dari Pak Purwo (penanggung jawab rombongan Polres Ngawi).
![]() |
| lautan manusia di jembatan Suramadu |
![]() |
| Nurul, saya dan Risma |
Baru-baru ini sosial media
dihebohkan dengan fenomena air dua warna
di selat Madura, sayangnya waktu itu kami bertiga tidak menjumpai fenomena
tersebut. Penata teknis penelitian oseanografi Lembaga Ilmu Penelitian
Indonesia (LIPI) Ahmad Bayhaqi menamai fenomena tersebut dengan istilah “Front”.
Feomena front terjadi akibat peningkatan garam yang terkandung dalam dua
perairan berbeda. Karena tidak beruntung menjumpai front, kami hanya
duduk santai di tepian jembatan untuk menikmati laut. Panggung utama sebenarnya
ada di ujung jembatan Suramadu, harus menempuh jarak 5,4 km dulu untuk sampai
di panggung utama. Kami memutuskan untuk berhenti di tengah jembatan, kira-kira
dijarak 2,5 km. Perjalanan Ngawi-Surabaya cukup menguras tenaga kami, terlebih
saya yang belum sarapan. Di tengah ribuan orang, saya hilang dalam kerinduan. Bersyukur,
meski hanya sebentar, masih diberikan kesempatan bertemu dengan kawan jauh,
Komunitas Kamar Kata Karanganyar, Komunitas SUC Ponorogo, Bang Ical hingga ke
Surabaya bersama Nurul dan Risma. Meski pada awalnya keberangkatan ke Surabaya
diwarnai perdebatan, namun akhirnya kami bisa larut dalam kebersamaan, terima
kasih Nurul dan Risma yang meskipun sibuk namun tetap bersedia berangkat. Terima kasih
teman-teman semua yang akan awet dalam ingatan serta catatan in. Sampai jumpa di cerita perjalanan
selanjutnya…..








Komentar
Posting Komentar